Postingan

Menampilkan postingan dengan label Bimbingan dan Konseling

Kaitan Perilaku Negatif Remaja SMA dengan Pola Asuh Orang Tua

Gambar
Kaitan Perilaku Negatif Remaja SMA dengan Pola Asuh Orang Tua  Hi readers, are you okay today ? Berbicara tentang remaja, rasanya terkesan seolah tak ada habisnya. Kadang kita heran kenapa dari sekian ratus jumlah remaja, mereka begitu berbeda-beda karakternya terutama ketika berada di lingkungan sekolah. Kadang kita melihat remaja itu sebagai seorang yang sering bolos, seorang yang suka merokok saat jam pelajaran, seorang yang suka ceplas ceplos kalo berbicara di kelas, seorang yang apabila ditanya ini itu justru malah diam saja, dan lain sebagainya. Kadang kita mudah saja melabeli remaja tersebut, tanpa kita sadari bahwa mereka juga sama seperti kita. Bersikap abcdefgh ketika bekerja, juga karena ada banyak latar belakang di balik sikap yang kita tampilkan, mungkin karena pengalaman masa lalu salah satunya, mungkin karena sedang memiliki masalah, dan lain sebagainya. Siswa pun demikian, mereka malas-malasan belajar, ogah-ogahan bahkan terkesan remaja yang nakal, juga karena ada yan

Service Learning

Gambar
               Service learning adalah suatu bentuk pendidikan yang bertujuan mengembangkan tanggung jawab sosial dan layanan kepada masyarakat. Dalam service learning , para siswa melakukan aktivitas-aktivitas seperti menjadi tutor, membantu orang tua, bekerja di rumah sakit, membantu di pusat penitipan anak, atau membersihkan tanah kosong untuk dijadikan tempat bermain.              Tujuan penting dari service learning adalah supaya remaja tidak terlalu berpusat pada diri sendiri ( self-centered ) dan lebih termotivasi untuk menolong orang lain (Sherrod & Lauckhardt, 2009). Service learning seringkali lebih efektif ketika kondisi : 1.       Memberikan pilihan aktivitas pelayanan yang dapat dipilih oleh siswa 2.       Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan partisipasinya           Service learning membawa pendidikan ke dalam masyarakat (Sherrod & Lauckhardt, 2009).   Sebagai contoh, seorang siswa kelas 11 membuka les matematika dan Bahasa inggris unt

Orang Normal ?

Gambar
Orang normal itu yang bagaimana ? Hello readers J Hopefully you doing good as always, aameen… Rasanya ketika kita lagi ngobrol-ngobrol dengan teman, keluarga, atau siapapun itu sering mengucapkan kata ‘’normal’’, misal seperti ‘’sikapnya kok berbeda dengan orang kebanyakan ? kayanya gak normal deh’’ atau ‘’orang itu kok pakaiannya compang-camping, terus ekspresi wajahnya terlihat aneh, apa orang itu bener gak normal ?’’ Yup ! hal-hal semacam itu ya, normal , normal , dan normal . Kalau kita coba resapi, sebenarnya, normal itu apa ? Tunggu sebentar, normal disini kaitannya dengan ‘’perilaku orang’’ ya. Lalu perilaku orang yang normal itu yang seperti apa ? Nah, dalam buku Wiramihardja (2015) : 11, menurut Kilander yang seorang ahli kesehatan mental, orang yang normal adalah orang yang memperlihatkan kematangan emosional, menerima realitas, bisa bekerja sama dan bisa hidup bersama dengan orang lain, serta memiliki filsafat hidup yang menjaga dirinya ketika komplikasi-komplikasi

Berteman yang Tidak Efektif

Gambar
Berteman yang tidak efektif itu yang seperti apa ? Pada postingan sebelumnya, sudah dibahas mengenai strategi berteman yang efektif. Lalu, memang ada cara-cara berteman yang tidak efektif  ?  Namanya pertemanan, kadang gak bertahan lama, kadang berantem lalu baikkan lalu berantem lagi, atau kadang pindah teman., dan lain sebagainya. Nah, pertemanan yang seperti itu berarti strategi bertemannya tidak efektif.  Berikut akan diuraikan mengenai strategi berteman yang tidak efektif. Sambil kamu baca uraian mengenai strategi berteman yang tidak efektif, coba sambil kamu resapi apakah uraian dibawah ini seperti pengalaman kamu atau justru sebaliknya. Menurut Wentzel  (1997) dalam Santrock (2011) : 448, strategi yang tidak tepat dalam berteman dan harus dihindari adalah : 1. Agresif secara psikologis. Menunjukkan rasa tidak hormat dan berperilaku buruk. Memanfaatkan orang lain, tidak mau bekerja sama, tidak berbagi, tidak peduli, bergosip dan menyebarkan isu. 2. Tidak membawa diri dengan baik.

Efektif dan Tidak Efektif dalam Berteman : Bagaimanakah caranya mencari teman yang efektif ?

Gambar
Efektif dan tidak efektif dalam berteman Pada usia SMA (Sekolah Menengah Atas), biasanya kita ingin sekali memiliki teman yang banyak, diakui oleh teman-teman, disukai oleh banyak teman, dan lain sebagainya. Kita biasanya merasa sangat bahagia ketika kita dikelilingi oleh banyak teman, merasa bahwa diri kita ini populer, merasa bahwa kita ini sebegitu  berartinya untuk teman-teman kita. Pada intinya ketika kita memiliki banyak teman, terasa bahwa dunia ini seolah kita yang menguasai. Namun.........eitsss, dalam berteman itu tentu ada strateginya dong, ada strategi yg efektif dan ada strategi yang tidak efektif.  Dalam tulisan kali ini, kita bahas dulu strategi yang efektif dalam berteman. Lalu, bagaimanakah strategi yang efektif dalam berteman ? Menurut Wentzel, 1997 dalam John W. Santrock (2011), strategi dalam berteman yang baik ada 4, yaitu : 1. Memulai Interaksi Maksud memulai interaksi adalah pelajari seseorang yang akan kamu hadapi. Tentunya kamu juga harus lebih dulu memperkenal

Perkembangan Identitas Diri Pada Remaja SMA

Gambar
    Perkembangan identitas diri pada remaja SMA   Masa SMA (Sekolah Menengah Atas) identik dengan masa pencarian jati diri. Biasanya pada masa SMA ini, kita ingin mengetahui sebetulnya potensi apa yang kita punya, di masa depan kita mau apa, gambaran diri ideal kita beberapa tahun di masa mendatang ingin seperti apa, dan lain sebagainya. Berkaitan dengan hal-hal yang ingin diketahui dalam diri pada usia SMA, maka ini berhubungan dengan ''Identitas''.  Dalam John W. Santrock (2011 : 437) Identitas adalah potret diri yang tersusun dari berbagai aspek, yang mencakup : 1. Jejak karir dan pekerjaan yang ingin dirintis seseorang (identitas pekerjaan/karir) 2. Apakah seseorang itu konservatif, liberal, atau berada diantara keduanya (identitas politik) 3. Keyakinan spiritual (identitas spiritual) 4. Apakah seseorang itu lajang, menikah, bercerai, dan seterusnya (identitas relasi) 5. Sejauh mana seseorang termotivasi untuk berprestasi dan intelektualitasnya (identitas prestasi,